Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN ANAK. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Februari 2013

Mitos jus jambu Obat demam Berdarah, Benarkah?

Ghiboo.com - Salah satu pengobatan untuk penderita demam berdarah (DBD) adalah mencegah terjadinya dehidrasi.
Kekurangan cairan justru memperparah kondisi penderita dan menimbulkan gangguan kesehatan lainnya, seperti diare.
Menurut dr. Muzal Kadim, Sp.A(K) dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Sub Spesialis Gastroenterology Anak, pengonsumsian jus jambu klutuk yang diyakini sebagai 'obat' DBD justru memperparah tingkat dehidrasi.
"Jus jambu atau jus apel memiliki osmolaritas (tingkat kepekatan untuk menarik air) tinggi. Hal ini akan memperparah tingkat dehidrasi tubuh dan akhirnya muncullah diare," jelas dr. Muzal ditemui dalam acara Pocari Sweat beberapa waktu lalu.
Dr. Muzal menambahkan, pengonsumsian jus jambu sebagai obat DBD agak salah kaprah. Banyak masyarakat percaya bahwa jambu klutuk ampuh menaikkan jumlah trombosit darah. Namun bukan berarti jus jambu tidak bermanfaat bagi kita.
"Jambu itu tidak menaikkan trombosit darah. Namun, jambu memiliki vitamin C tinggi, yang berguna memperbaiki daya tahan tubuh melawan virus dengue (penyebab DBD). Trombosit penderita DBD akan naik secara perlahan dengan sendirinya," tambahnya.BACA JUGA:

Rabu, 20 Februari 2013

6 Sayuran Yang Baik Untuk Bayi Anda

Sayuran Yang Baik Untuk Bayi
Agar bayi lebih bersahabat dengan sayur, selepas masa ASI ekslusif 6 bulan, kenalkan sayuran dulu sebelum buah-buahan. Sumber vitamin dan mineral yang rasanya hambar ini akan terekam dalam memori bayi. Bila dia diberi buah yang rasanya manis terlebih dahulu, umumnya akan menolak sayur yang diberikan belakangan. Inilah sayuran yang umum diberikan untuk bayi usia 6-12 bulan.

1. Seledri. Sayuran ini umumnya digunakan sebagai penambah cita rasa makanan, misalnya saat membuat sup. Namun, tak salahnya jika Anda menjadikannya sebagai campuran bubur atau nasi tim bayi. walau digunakan sebagai penambah cita rasa, seledri mengandung kalsium dan fosfor yang lumayan. Dalam 100 gram seledri terdapat 50 miligram kalsium, dan fosfor 40 miligram.

2. Bayam. Sayuran berwarna hijau ini mengandung vitamin A (dalam bentuk betakaroten) yang tinggi, yakni 1872 mikrogram/100 gram. Selain itu, bayam juga kaya vitamin B, vitamin C, asam folat, serta mineral kalsium, fosfor, mangan dan zat besi. Bayam juga sangat penting untuk pembentukan otak bayi. bayam merah juga sumber vitamin dan mineral terutama kalsium. Dalam 100 gram bayam merah, terdapat 368 miligram kalsium. Selain itu, bayam merah juga kaya akan fosfor dan zat besi, serta vitamin A,B1 (tiamin) dan C.

3. Labu siam. Kaya akan fosfor dan kalsium. Dalam 100 gram labu siam mengandung 25 miligram fosfor dan 14 miligram kalsium.

4. Wortel. Manjur buat kesehatan mata karena vitamin A-nya yang lumayan tinggi, yaitu sekitar 3600 mikrogram dalam 100 gram wortel.

5. Brokoli. Kaya kalsium dan asam folat. Dalam 100 gram brokoli yang dimasak, terkandung 56 mikrogram asam folat dan 88 miligram kalsium. Hanya saja karena bentuknya yang agak keras, maka brokoli harus benar-benar lunak dan dilumatkan saat disajikan untuk bayi.

6. Tomat. Mengandung vitamin C yang cukup banyak, yakni 40 miligram dalam 100 gram tomat. Selain itu, tomat juga mengandung suatu sat yang disebut likopen. Zat yang memberi warna merah pada buah tomat ini bersifat antioksidan.

Jumat, 15 Februari 2013

Sebagian Alasan Kenapa Dokter Dokter Di Negara negara Maju "pelit" Kasih Obat ke Anak yang Sakit ?

** Dimana letak Salahnya?**

Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku ...tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.

Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.

"Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection." kata dokter tua itu.




"Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?" batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.

"Obat penurun panas Dok?" tanyaku lagi.
"Actually that is not necessary if the fever below 40 C."

Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.
Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

"Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok," kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. "Apakah dia sudah minum suatu obat?"

Aku mengangguk. "Ibuprofen syrup Dok," jawabku.

Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,"Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja."

Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.
Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku."Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!" Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.

"Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!"

Suamiku menimpali, "Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?"
Aku menarik napas panjang. "Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?"

Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!

Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.

"Just drink a lot," katanya ringan.

Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.

"Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?" tanyaku tak puas.

"This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik," jawabnya lagi.

Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat.
Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.

"Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan," kataku ngeyel.

Dengan santai si dokter pun menjawab,"Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq."
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.

"Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini." Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia.

Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anak anakku sendiri.
Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak.
Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.

Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.

"Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.?

Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,
"Nothing to worry. Just a viral infection."

Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagi lagi aku sebal.

"Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok," aku ngeyel seperti biasa.

Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum.
"Do you know how many times normally children get sick every year?"

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. "enam kali," jawabku asal.

"Twelve time in a year, researcher said," katanya sambil tersenyum lebar.
"Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat," sambungnya.

Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.

Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI.

Bunyinya begini: "Batuk - pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 - 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar.
Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun."
Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.

"Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya," Lanjut artikel itu. "Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus.
Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi.

Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun."

Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku.

Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda 'dipaksa' tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.

Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata 'pengobatan rasional'. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional.
Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm... kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.

Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anak anak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. "Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe," kataku pada suamiku.

Jadi, bagaimana dengan para orang tua di Indonesia?

Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif 'terlindungi' dari paparan obat-obatan yang tak perlu.
Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, 'memaksa' agar si dokter memberikan obat.
Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter 'menjual' obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?

Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!

Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya 'hanya' untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.

Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.

Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien 'bergerak', masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.

Dikutip dari buku "Smart Patient" karya dr. Agnes Tri Harjaningrum |

Jumat, 08 Februari 2013

4 Kondisi Demam Balita Yang Harus Dibawa ke Dokter

demam anak
Demam memang bukan selalu tanda adanya penyakit. Demam merupakan tanda bahwa sistem daya tahan tubuh sedang bertempur melawan bibit penyakit yang sedang menyerang tubuh. Namun, untuk beberapa kasus, balita yang demam harus dilarikan ke rumah sakit.

1. Suhu tubuh yang terlalu tinggi bisa membahayakan bayi. Jika bayi di bawah 3 bulan mengalami demam lebih dari 37,5 ° C, jangan tunda hubungi dokter. Apalagi, pada suhu ini bayi biasanya sudah mulai terlihat lesu.

2. Untuk anak yang sudah berumur 2 tahun, Anda harus langsung membawanya ke dokter bila dia mengalami masalah atau keluhan, misalnya dia tidak dapat menundukkan kepalanya ke arah dada –salah satu tanda anak yang terserang radang selaput otak.

3. Bila anak demam, lalu dia menjadi banyak menangis atau sering menggerak-gerakkan kakinya dan urinnya lebih kental dari biasanya, bisa jadi dia menderita infeksi saluran kemih. Periksakanlah segera urinnya ke laboratorium.

4. Bila di hari ketiga anak masih demam dan belum tahu apa penyebabnya, maka dia harus diperiksa oleh dokter. Selain flu, penyebab demam biasanya adalah infeksi pada telinga bagian tengah, paru-paru atau saluran kemihnya. Untuk anak-anak di daerah tropis, penyebab demam lain yang harus diwaspadai adalah demam berdarah.

Rabu, 06 Februari 2013

Penyebab Batuk Pada Bayi / Anak dan Cara Mengobatinya

Ya Allah... anakku yang berumur 5 bulan dan 3 tahun terserang batuk... sudah 3 hari belum juga reda, padahal sudah minum obat dari dokter... rupanya batuk sebenarnya tak ada obatnya, hanya perlu kekebalan tubuh yang cukup dan asupan gizi yang cukup akan bisa menyembuhkan sendiri batuk anak kita, jangan lupa terus berdoa kepada Allah swt juga... berikut artikel selengkapnya, semoga dapat membantu untuk bunda yang lain ya..


flu dan batuk anak dan bayi

Batuk dan pilek adalah penyakit yang umum dialami oleh bayi dan anak-anak. Umumnya anak bisa mengalami 6 hingga 12 kali dalam satu tahun, atau dengan kata lain, hampir tiap 1 – 2 bulan sekali bayi dan anak bisa terserang batuk pilek.
Pencetus batuk pilek pada anak memang sulit ditentukan karena banyak faktor penyebab. Beberapa di antaranya adalah :
  1. Tertular anggota keluarga dekat. Orang tua, pengasuh atau anggota keluarga lain yang serumah harus membiasakan diri segera menggunakan masker begitu flu menyerang supaya tidak menular pada anak.
  2. Tertular teman di day care, sekolah, tempat bermain. Public area tempat anak banyak beraktivitas sangat memungkinkan anak mudah tertular batuk pilek dari teman-teman sepermainannya.
  3. Penggunaan penyejuk udara (AC) di malam hari dapat menimbulkan reaksi alergi yang membuat hidung anak tersumbat, menjadi sulit bernafas sehingga anak kemudian bernafas lewat mulut.
  4. Penggunaan kipas angin di kamar yang lalu meniupkan debu ke seluruh penjuru kamar.
  5. Lingkungan yang kurang sehat, polusi tinggi, ada perokok aktif dalam rumah, dll.
  6. Konsumsi makanan yang kurang sehat, misalnya jajan sembarangan, makanan ringan yang membuat tenggorokan gatal, dll.


Karena frekuensinya cukup sering, orang tua sebaiknya paham betul bagaimana menangani anak batuk pilek dengan benar, termasuk penggunaan obat-obatan. Jika tidak, dapat dibayangkan, bayi dan anak akan minum obat hampir tiap bulan.
Batuk

Sebenarnya, batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh dimana refleks batuk dapat membantu mengeluarkan dengan cepat suatu benda yang ada di dalam saluran nafas. Tersedak, infeksi atau lendir yang berlebihan akan dilkeluarkan oleh tubuh melalui mekanisme batuk. Penyebab batuk pada bayi dan anak biasanya adalah virus parainfluenza, respiratory syncytial virus (RSV) dan virus influenza. Batuk juga dapat  muncul karena peningkatan produksi dahak yang dipicu oleh infeksi virus atau alergi.
Lamanya batuk tergantung dari masing-masing penyebab. Batuk yang disebabkan oleh inveksi virus bisa berlangsung hingga 2 minggu. Bisa menjadi lebih lama jika anak sensitif atau alergi.
Pilek

Gejala pilek biasanya ditandai dengan tersumbatnya saluran pernafasan (hidung tersumbat), temperatur tubuh naik atau demam ringan, bersin-bersin, ingus yang cair keluar dari hidung, sakit tenggorokan sehingga sulit menelan, suara serak dan batuk-batuk.
Pilek sebenarnya bukan merupakan penyakit berat, namun terkadang sangat mengganggu.
Atasi dengan Benar

Batuk dan pilek pada bayi dan anak-anak terutama disebabkan oleh infeksi virus. Sesungguhnya tidak ada satu obatpun yang dapat menyembuh batuk pilek, karena hingga saat ini tidak ada obat antivirus untuk batuk dan pilek.  Obat batuk pilek yang tersedia di pasaran sebenarnya hanya berfungsi untuk meringankan gejala batuk pilek yang kadang bisa sangat mengganggu, menyebabkan anak tidak dapat beristirahat dan makan dengan baik.
Karena disebabkan oleh virus, maka batuk pilek pada bayi dan anak sifatnya self-limiting atau dapat sembuh sendiri. Yang dapat menyebabkan sembuh dari batuk pilek  adalah daya tahan tubuh anak itu sendiri. Karenanya upaya meningkatkan daya tahan tubuh anak merupakan poin yang sangat penting untuk mempercepat proses pemulihan.
Lakukan hal berikut untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak yang sedang batuk pilek : 
  1. ASI hingga usia 2 tahun. Antibodi yang terdapat dalam ASI mampu melawan infeksi virus yang menyebabkan batuk pilek. 
  2. Makanan bergizi seimbang dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin seperti apel, jeruk, kiwi, buah naga, dll. 
  3. Istirahat yang cukup. Bantu anak untuk lebih banyak beristirahat selama sakit. Kurangi porsi bermain dan pilih permainan yang tidak terlalu menguras energi. Jika perlu, anak tidak usah bersekolah dulu. 
  4. Jemur pagi. Sinar matahari pagi ternyata dapat meningkatkan kekebalan tubuh si kecil karena selama terpapar sinar matahari pagi, tubuh mengeluarkan lebih banyak sel darah putih.

Sayangnya, seringkali gejala yang dialami anak yang sedang batuk pilek terasa begitu mengganggu. Hidung tersumbat dan batuk yang terus menerus membuat anak malas menyusu, malas makan dan tidak dapat tidur dengan baik. Padahal seperti yang telah diutarakan di atas, ketiga hal tersebut – ASI, makan dan istirahat – sangat diperlukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Dalam kondisi seperti ini, usaha untuk meringankan gejala, baik terapi non farmakologis / non obat ataupun terapi farmakologis / obat diperlukan untuk membuat anak lebih nyaman.
Terapi non farmakologis / non obat

Adalah terapi yang dilakukan untuk meringankan gejala batuk pilek pada anak yang tidak menggunakan intervensi obat-obat kimia. Terapi non farmakologis harus diusahakan semaksimal mungkin terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menggunakan terapi farmakologis / terapi obat.
Banyak hal yang ternyata dapat dilakukan orang tua di rumah (home treatment) untuk membantu mengurangi gejala batuk pilek yang diderita anak. Diantaranya :

Jemur pagi
Selain dapat meningkatkan kekebalan tubuh, sinar matahari juga akan menghangatkan saluran pernafasan si kecil sehingga bisa membantu mengencerkan lendir.
Banyak minum
Tingkatkan asupan cairan pada anak dengan memberinya minum lebih banyak: ASIP, air putih, juice buah. Dengan cara ini, anak terhindar dari dehidrasi, mencegah agar tenggorokan tidak kering serta dahak lebih encer sehingga mudah dilkeluarkan.
Mandikan anak dengan air hangat
Selain tetap menjaga kebersihan tubuh si kecil meskipun sedang sakit, mandi dengan air hangat dapat meningkatkan kelembaban udara dan meringankan batuk.
Terapi uap
Dapat membantu melembabkan udara sehingga membantu melegakan nafas dan mengencerkan lender, lendir jadi mudah dikeluarkan. Caranya : taruh baskom berisi air panas di sudut kamar. Tetesi dengan minyak kayu putih atau minyak lainnya. Biarkan uap memenuhi ruangan dan terhirup oleh si kecil. Sebaiknya AC dimatikan atau jika sangat diperlukan, suhu diatur sedemikian rupa supaya uap tetap terasa dan efektif.
Oles Balsam / Minyak
Hangatkan dada si kecil dengan mengoleskan balsam atau minyak yang sesuai. Cara ini dapat membantu mengencerkan dahak dan melegakan saluran nafas. Pilih produk yang sesuai usia, sehingga anak nyaman dan bukannya jadi kepanasan. Contoh balsam yang bisa dipakai antara lain, Vick Vaprub (sesuaikan dengan usia karena efeknya cukup panas), Transpulmin BB, dll. Sedangkan minyak yang bisa dipakai antara lain : minyak telon, minyak kayu putih, dll.


Berkumur
Untuk anak yang lebih besar, berkumur dengan air garam dapat mengurangi rasa sakit di tenggorokan.
Atur letak bantal
Pada bayi, gunakan bantal yang lebih tinggi pada saat tidur untuk membantu melegakan hidung yang tersumbat.
Bantu anak mengeluarkan ingus yang meler
Bayi  belum dapat diminta untuk menghembuskan hidung sehingga ingus bisa keluar. Padahal ini dapat membantu bayi bernafas lebih lega. Karenanya seka hidung bayi yang beringus dengan tisu atau sapu tangan. Tekan-tekan dengan lembut batang hidungnya (jangan terlalu keras ya ). Tekanan lembut ini dapat membantu mengeluarkan lendir. Untuk membersihkan bekas lendir yang mengering di sekitar lubang hidung, gunakan cotton bud basah dan seka perlahan-lahan. Jangan memasukkan cotton bud terlalu dalam.
Penyedot ingus
Untuk membantu mengeluarkan ingus, di pasaran juga tersedia penyedot ingus (nasal aspirator / nose cleaner). Penggunaannya masih jadi perdebatan karena ada yang berpendapat dapat merusak jaringan dalam hidung. Jika ingin menggunakan, pilih yang berbentuk botol karet kecil dengan ujung plastik untuk menyedot. Model ini menggunakan tekanan udara dari pompa karet untuk membantu menarik ingus dalam hidung. Model ini lebih baik dibanding penyedot ingus model tabung yang dilengkapi dengan selang panjang, dimana penyedot ingus menggunakan tekanan udara dari mulut yang dapat menyebabkan perpindahan bakteri. Gunakan produk dari merek khusus bayi. Baca petunjuk penggunaannya dengan baik. Sterilkan dulu sebelum dipakai. Masukkan ujung penyedot ke dalam lubang hidung, namun jangan terlalu dalam. Lakukan dengan lembut agar tidak mengiritasi hidung bayi. Pastikan alat dicuci bersih dan disterilkan setelah digunakan.
Lendir yang lebih encer akan lebih mudah dikeluarkan anak lewat bersin, ingus di hidung yang meler, batuk atau masuk ke dalam saluran cerna anak. Beberapa anak menggunakan efek muntah untuk membantu mengeluarkan lendir. Karenanya, orang tua tidak perlu panik jika anak yang sedang batuk pilek mendadak jadi lebih sering muntah. Yang penting pastikan asupan cairan dan makanan sesuai dengan jumlah frekuensi muntah. Jangan sampai anak dehidrasi dan kurang gizi karena sering muntah tapi tidak diimbangi dengan masuknya cairan dan makanan yang cukup.
Terapi Farmakologis / obat

Terapi farmakologis / obat dapat digunakan jika terapi non farmakologis belum membuahkan hasil yang maksimal. Ada terapi obat yang dapat dibeli sendiri di apotek untuk swamedikasi, ada terapi obat yang harus berdasarkan resep dokter atau atas diskusi dengan Apoteker.

Untuk keperluan swamedikasi, penggunaan obat sebaiknya hanya jika betul-betul diperlukan dan disesuaikan dengan gejala. Beberapa obat yang dapat moms gunakan adalah :
  1. Larutan obat tetes NaCl fisiologis 0,9 %. Dapat dibeli bebas di apotek. Berguna untuk melembabkan membran hidung yang kering dan meradang karena pilek, alergi atau kelembaban udara yang rendah. Larutan NaCl ini akan bekerja mengurangi sekresi mukosa sehingga membantu membuang ingus dari hidung. Teteskan 1-2 tetes pada masing-masing lubang hidung. Dapat diulang beberapa saat kemudian atau paling tidak 3 kali sehari. Meskipun produk ini dapat digunakan untuk anak dan bayi usia 1 bulan ke atas, penggunaannya harus tetap hati-hati pada bayi yang usianya masih sangat muda.
  2. Paracetamol .  Merupakan obat antipiretik atau penurun panas yang aman digunakan pada bayi dan anak. Sebaiknya hanya digunakan jika anak mengalami demam diatas 38,5 C. Kurang dari suhu itu, sebaiknya optimalkan terapi non obat untuk atasi demam.

Obat Over The Counter (OTC)

Penggunaan obat batuk pilek yang banyak dijual bebas sebaiknya tidak sembarangan. Food and Drug Administration (FDA) sangat menganjurkan agar orang tua  menghindari penggunaan obat batuk pilek yang banyak dijual bebas di pasaran bagi anak-anak di bawah 2 tahun karena potensi efek samping yang dapat membahayakan bayi dan anak < 2 tahun. Di Indonesia sendiri, anjuran FDA tersebut diimplementasikan dengan penetapan dosis yang dimulai dari anak usia 2 tahun. Demi keamanan, orang tua sebaiknya tidak melanggar aturan dosis yang tertera di kemasan obat dengan mencoba-coba memberikan obat OTC ini pada anak usia kurang dari 2 tahun dan memodifikasi sendiri dosis (dosis dikurangi sendiri) tanpa dasar yang tepat.
Antibiotik

Penggunaan antibiotik pada batuk pilek yang disebabkan oleh infeksi virus sangat tidak memiliki dasar. Selain antibiotik tidak akan memberikan efek terapi, efek samping dan resiko resistensi harus menjadi pertimbangan dalam penggunaan antibiotik pada batuk pilek karena infeksi virus.
Karenanya, orang tua sebaiknya mengutamakan dan mengoptimalkan terapi non farmakologis sedemikian rupa dalam menangani bayi dan anak dengan batuk pilek. Jika batuk pilek masih terus berlangsung lebih dari 7 hari meskipun berbagai terapi non farmakologis telah diupayakan, atau jika gejala tampak berat dan sangat mengganggu, sebaiknya segera bawa anak ke Dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.


image : www.mamashealth.com

Jumat, 10 Februari 2012

Waspada,Ternyata Anak Juga Bisa Terkena Gangguan Jiwa!!!


img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Masa anak-anak harusnya menjadi masa menyenangkan dan tanpa beban. Namun beberapa anak juga bisa mengalami gangguan jiwa terutama anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang bermasalah.

"Gangguan jiwa pada anak belum banyak dibahas, tapi harus hati-hati karena anak masih bergantung pada orangtua," jelas dr Tun Kurniasih Bastaman, SpKJ, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Jakarta, Sabtu (11/2/2012).

Kebanyakan anak yang mengalami gangguan jiwa disebabkan karena faktor dari orangtua. Bila orangtua bermasalah, maka bisa mempengaruhi anak.

Gangguan jiwa pada anak biasanya ditandai dengan gangguan emosi dan perilaku.
Ada beberapa gejala yang dapat menunjukkan gangguan jiwa pada anak, seperti dilansir dr Tun, antara lain:
1. Menolak untuk sekolah
2. Menjadi lebih cengeng
3. Pemarah
4. Sering mimpi buruk
5. Lebih sering mengompol
6. Sering sakit perut
7. Kesulitan belajar
8. Prestasi menurun
9. Gangguan bicara pada balita
10. Gangguan komunikasi
11. Retardasi mental (keterbelakangan mental)
12. Disleksia (kesulitan membaca)

Menurut dr Tun, orangtua harus lebih cermat mengamati perkembangan anak, apalagi pada anak-anak yang berusia masih sangat muda.

"Gangguan jiwa pada anak tergantung pada orangtua. Sebenarnya terkadang orangtua sudah lama mencermati bahwa ada perubahan pada anak, entah tingkah laku atau kepribadiannya. Namun orangtua baru membawa anak ke psikiater ketika anak sudah menunjukkan perilaku yang mengganggu, seperti suka memukul, banting-banting barang, pemarah," jelas dr Tun.

Untuk pengobatan gangguan jiwa pada anak, biasanya dokter akan memberikan terapi khusus serta pendidikan khusus. Gangguan jiwa pada anak sebaiknya segera dideteksi dan ditangani, karena jiwa dibiarkan begitu saja bisa berlanjut hingga dewasa.



GROSIR SPREI DAN BEDCOVER MURAH HANYA ADA DI SINI


KOLEKSI BATIK INDONESIA ADA DI SINI


JILBAB DAN BUSANA MULIM TERBARU ADA DI SINI

Selasa, 07 Februari 2012

Mengapa Air Rebusan Mie Instan Harus Dibuang??

Membuang air rebusan mie instan tidak menghilangkan
bahan kimia didalamnya, hanya mengurangi saja

 Mi instan merupakan salah satu makanan yang paling mudah ditemukan, praktis, dan disukai banyak orang karena rasanya yang enak. Daya simpannya yang lama juga membuat mi instan kerap menjadi pilihan untuk mereka yang tinggal sendiri, namun tak punya waktu untuk memasak.
Meski begitu, terlalu banyak mengonsumsi mi instan disinyalir akan menimbulkan banyak efek negatif bagi tubuh oleh karena kandungan bahan pengawet atau penyedap rasanya. Kemudian, selain kandungan karbohidrat, mi instan tak cukup memiliki kandungan vitamin, mineral, atau serat, yang bermanfaat bagi tubuh. Sehingga, pada dasarnya mi instan tidak cukup memiliki nutrisi bagi keseimbangan gizi tubuh manusia.
"Namun yang paling berbahaya adalah adanya kandungan bahan pengawet, MSG (monosodium glutamat), dan bahan pewarna makanan yang ada di dalam mi instan," ungkap dr Patricia Wijaya, dokter ahli kecantikan dari Beauty Inc. kepadaKompas Female, usai peluncuran produk mi instan baru di Swiss Bel Hotel, Jakarta Pusat, Minggu (8/1/2012) lalu.
Kandungan bahan berbahaya dalam mi instan ini didapatkan dari proses pengolahan sampai proses pengawetan yang dilakukan dengan cara menggoreng mi sampai kering. Proses penggorengan biasanya menggunakan minyak goreng, yang membuat air rebusan menjadi keruh dan sedikit berminyak ketika direbus.
"Banyak orang yang mengatakan bahwa air rebusan pertama ini harus dibuang agar pengawetnya hilang. Namun sebenarnya zat pengawet ini tidak akan hilang," tukas dr Patricia.
Air rebusan mi instan yang pertama akan mengeluarkan minyak dan zat kimia lainnya yang mungkin saja digunakan untuk membuatnya. Namun, bahan pengawet dan kandungan lain yang berbahaya bagi kesehatan ketika diolah lebih lanjut ini tidak akan hilang 100 persen. Ia hanya akan berkurang sedikit ketika air rebusan pertama dibuang.
Kandungan minyak, bahan pengawet, MSG, dan zat pewarna masih akan tetap menempel pada mi instan meski kadarnya sudah berkurang beberapa persen. Perlu Anda ketahui, penggunaan bahan pengawet tak selamanya membahayakan, karena produsen mi instan tentunya harus mengikuti standar aman yang ditetapkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Namun kandungan bahan kimia ini masih berpotensi untuk menyebabkan berbagai gangguan kesehatan bila dikonsumsi secara rutin. "Efek yang dirasakan memang adalah efek jangka panjang, misalnya gangguan pencernaan, konstipasi, sampai kanker pencernaan, dan lainnya," tukasnya.
Dalam jangka panjang, bahan kimia tersebut juga akan sangat berbahaya bagi kecantikan wajah dan kulit. Kulit menjadi lebih kering, yang kelak akan menimbulkan berbagai gejala penuaan dini. Selain itu, mi instan juga akan merusak program diet Anda, karena kadar kalorinya tinggi. Sekali lagi, boleh-boleh saja menikmati mi instan, tetapi sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering. Jangan menjadikan mi instan sebagai makanan utama, melainkan sebagai jajanan selingan saja. Tetaplah mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang untuk sarapan, makan siang, dan makan malam.


Senin, 16 Januari 2012

Deteksi Kelainan Mata Anak Sejak Bayi


REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Anak yang mengalami gangguan penglihatan tidak merasakan kelainannya. Padahal rata-rata hampir satu dari lima anak mengalami gangguan penglihatan yang tidak terdeteksi pada saat usia empat tahun.
Dua mata yang sehat adalah sangat penting bagi anak anda karena cacat penglihatan mengakibatkan gangguan penglihatan yang menyebabkan prestasi belajar anak menurun, meningkatkan bahaya terjadinya kecelakaan lalu-lintas dan terbatasnya pilihan karir mereka.
"Karena itu, kalau ingin tahu anak kita mempunyai masalah kesehatan, satu-satunya hanya dengan screening," kata Dokter Spesialis Mata  Asri Medical Center (AMC), dr Nurfifi Arliani, SpM.
Namun, untuk pemerikaan mata pada anak lebih sulit daripada dewasa, apalagi pada anak yang masih berusia di bawah satu tahun. Karena sulit untuk memeriksa mata anak, kemudian orang menciptakan suatu alat screening mata yang nyaman bagi yang memeriksa mata maupun pasien yang disebut plusoptix A09. Alat ini di Indonesia baru ada di empat tempat, yakni satu di Jakarta, dua di Surabaya dan satu di Yogyakarta yakni di AMC.
Di AMC sendiri alat ini masih tergolong baru, masuk pada akhir Desember 2011. Alat ini memang didesain khusus untuk bayi dan anak-anak. Bila masih bayi, pada saat pemeriksaan bisa dipangku oleh orang tuanya. Jarak antara pemeriksa dan pasien yang diperiksa satu meter; pemeriksaannya dengan infra merah. Alat ini cukup unik, ada suara untuk menarik pasien dan ada dokumentasinya. 
Kegunaan dari alat ini adalah  untuk mendeteksi kelainan-kelainan penglihatan sedini mungkin. Bila kelainan-kelainan penglihatan tidak dideteksi dan diterapi pada tahun-tahun pertama kehidupan, maka dapat menyebabkan anak tidak akan pernah memperoleh penglihatan penuh. Hal ini yang disebut dengan mata malas (lazy eyes) atau amblyopia.
"Bahkan kalau ketidakseimbangan mata kanan dan kiri makin tinggi akan terjadi straasbismus (mata julimg)," jelas  Nurfifi. Namun, kata Nurfifi, kalau mata malas sudah diketahui sejak dini, maka bisa dilakukan terapi, baik dengan alat bantu maupun tetes mata, tergantung hasil assesment
Karena itu pemeriksaan mata sebaiknya dilakukan sedini mungkin, yakni sebelum ulang tahun pertamanya (sejak usia enam bulan). Setelah itu, harus diulang secara berkala, karena mata berubah sesuai dengan perkembangan. Dan gangguan penglihatan dapat timbul kapan saja pada masa pertumbuhan tersebut. "Makin dini kelainan penglihatan terdeteksi dan diterapi, makin baik dan tepat terapi yang bisa diberikan," tutur dia.

Baca Artikel motivasi DISINI

Baca Artikel Islami DI SINI