Tampilkan postingan dengan label OTAK ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OTAK ANAK. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Oktober 2014

ANAK-ANAK YANG DI BESARKAN DENGAN PENUH TEKANAN DAN KETAKUTAN


Banyak sekali saya bertemu dengan orang tua yang hidupnya penuh khawatir dan ketakutan akan masa depan anaknya. Khawatir anaknya tidak bisa hidup secara layak seperti orang tuanya.
Hingga segala cara ditempuhnya, mulai dari menyekolahkan di sekolah UNGGULAN, mengikutkan di berbagai kursus, bimbingan belajar mulai siang hingga malam hari. Lalu setelah itu masih di tambah lagi memaksa anak untuk mengerjakan setumpuk PR malam harinya dan esok pagi-pagi sekali harus sudah bangun berangkat ke sekolah bak para pekerja kantoran di usaia anak-anak.
Saya membayangkan betapa lelahnya fisik dan mental anak-anak kita hidup di zaman sekarang.
Lalu apakah benar hasilnya anak-anak kita akan menjadi lebih baik dan pintar? Atau hanya “pintar” sesaat saja versi sekolah karena mendapat angka 10 di raportnya? Sebuah angka yang sama sekali tidak menjamin apapun terhadap masa depan anak kita kecuali hanya untuk mendapat selembar kertas yang bernama ijazah.
Tekanan demi tekanan yang di lakukan oleh para orang tua dan sekolah dengan niat baik agar anaknya menjadi anak "Pintar" atau anak "sukses" tadi nyatanya malah membuat anak-anak tersebut menjadi anak yang stress, anak-anak yang gampang marah, pembangkang, suka membuli dan sering kali berujung pada penyimpangan prilaku anak dan remaja.
Dan setelah itu kerja orang tua disibukkan untuk mencari dan menemui berbagai macam TERAPIS untuk "menyembuhkan" anaknya (yang dulu awalnya sehat-sehat saja dan tidak pernah bermasalah).
Itulah kerja kami selama ini membantu anak-anak yang pada akhirnya di katakan “bermasalah” oleh orang tua dan sekolahnya. Dan mulailah kini giliran orang tuanya yang stress berat melihat tingkah laku anaknya.
Inilah yang sering kami hadapi, membantu orang tua yang anak2nya stress karena KETAKUTAN ORANG TUANYA AKAN MASA DEPAN ANAKNYA.
Memang benar kita tidak bisa melihat masa depan anak kita....,
tapi kita bisa melihat MASA KINI anak-anak kita. Ini yang sering kali kita lupa, sering tidak kita sadari dan luput dari perhatian kita.
Apakah masa kini mereka bahagia hidup bersama kita atau tidak??
Itu sebenarnya jauh lebih penting ketimbang manakutkan masa depan yang kita semua sama-sama belum bisa kita lihat dan pastikan.
Jika mereka merasa bahagia selalu bersama orang tuanya maka sesungguhnya kita tidak perlu lagi kita mengkhawatirkan masa depannya.
Mengapa ?
Karena orang yang masa-masa kecilnya hidup bahagia (bukan bahagia karena penuh dengan kemewahan, tapi bahagia karena hidup harmonis dengan orang tuanya dan bersama dengan alam lingkungannya) maka kelak akan menjadi orang yang hidupnya bahagia pula.
Dan menurut hasil suatu penelitian bahwa sukses itu selalu di awali dengan memiliki RASA BAHAGIA DAN RASA SYUKUR dalam hidupnya. Saya pikir agama kita pun demikian mengajarkannya pada kita, bukan?
Tahukah anda bahwa belum pernah tercatat dalam sejarah bahwa stress itu akan membuat orang menjadi sukses. Bahkan menurut salah satu jurnal kesehatan stress itu malah membuat seseorang “penyakitan” dan lebih dekat dengan ajal ketimbang lebih dekat dengan sukses.
Yakinlah bahwa anak-anak yang masa kecilnya hidup bahagia maka kelak iapun akan terus merasa bahagia di masa depannya.
Mengapa demikian ???
Karena masa depan sesungguhnya adalah kumpulan atau akumulasi dari masa kini, nasib seseorang kelak merupakan akumulasi pikiran dan perasaan di saat ini.
Anda boleh percaya atau tidak percaya, tapi apa yang saya sampaikan ini adalah berdasarkan kumpulan pengalaman hidup saya dan orang2 yang hidupnya sukses dan bahagia di hampir seluruh dunia, sekali lagi tidak hanya sukses tapi juga BAHAGIA.
Jadi saya sendiri memilih untuk percaya. bahwa anak yang hidup bahagia kelak akan hidup bahagia dimasa dewasa. Dan bahagia itulah yang akan menarik sukses dalam kehidupannya kelak. Juga kehidupan saya hari ini dan kehidupan anda yang juga merasa bahagia hari ini.
Itulah mengapa pertanyaan saya setiap hari pada anak adalah "Apakah kamu bahagia nak? Apakah kamu bahagia berada di dekat ayah ?"
Anda mungkin berpikir ini berlebihan dan hiperbolis, tapi itulah sesungguhnya yang jauh lebih penting bagi saya untuk saya tanyakan pada anak saya ketimbang pertanyaan-pertanyaan lain yang berhubungan dengan “Pintar” dan “Hebat” seperti "Dapat berapa nilai matematikamu hari ini?" atau "Apakah PR sudah selesai di kerjakan?" "Dapat rangking berapa di kelasmu?" dan sejenisnya
Ya pertanyaan-pertanyaan yg sering membuat anak langsung berubah menjadi diam dan stress untuk menjawabnya..
Sahabatku, siapapun boleh tidak setuju dengan posting ini karena hidup ini adalah pilihan dan setiap kepala punya pilihan pendapat yang berbeda-beda berikut konsekuensinya masing-masing, tapi sesungghnya itulah pengalaman hidup saya dan pengalaman hidup dari orang-orang sukses yang hidupnya bahagia.
Karena bagi saya kita ini baru boleh merasa sukses jika kita sudah merasa bahagia dalam menjalani hidup ini
Salam syukur penuh berkah
-ayah edy-

Jumat, 10 Februari 2012

Waspada,Ternyata Anak Juga Bisa Terkena Gangguan Jiwa!!!


img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Masa anak-anak harusnya menjadi masa menyenangkan dan tanpa beban. Namun beberapa anak juga bisa mengalami gangguan jiwa terutama anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang bermasalah.

"Gangguan jiwa pada anak belum banyak dibahas, tapi harus hati-hati karena anak masih bergantung pada orangtua," jelas dr Tun Kurniasih Bastaman, SpKJ, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Jakarta, Sabtu (11/2/2012).

Kebanyakan anak yang mengalami gangguan jiwa disebabkan karena faktor dari orangtua. Bila orangtua bermasalah, maka bisa mempengaruhi anak.

Gangguan jiwa pada anak biasanya ditandai dengan gangguan emosi dan perilaku.
Ada beberapa gejala yang dapat menunjukkan gangguan jiwa pada anak, seperti dilansir dr Tun, antara lain:
1. Menolak untuk sekolah
2. Menjadi lebih cengeng
3. Pemarah
4. Sering mimpi buruk
5. Lebih sering mengompol
6. Sering sakit perut
7. Kesulitan belajar
8. Prestasi menurun
9. Gangguan bicara pada balita
10. Gangguan komunikasi
11. Retardasi mental (keterbelakangan mental)
12. Disleksia (kesulitan membaca)

Menurut dr Tun, orangtua harus lebih cermat mengamati perkembangan anak, apalagi pada anak-anak yang berusia masih sangat muda.

"Gangguan jiwa pada anak tergantung pada orangtua. Sebenarnya terkadang orangtua sudah lama mencermati bahwa ada perubahan pada anak, entah tingkah laku atau kepribadiannya. Namun orangtua baru membawa anak ke psikiater ketika anak sudah menunjukkan perilaku yang mengganggu, seperti suka memukul, banting-banting barang, pemarah," jelas dr Tun.

Untuk pengobatan gangguan jiwa pada anak, biasanya dokter akan memberikan terapi khusus serta pendidikan khusus. Gangguan jiwa pada anak sebaiknya segera dideteksi dan ditangani, karena jiwa dibiarkan begitu saja bisa berlanjut hingga dewasa.



GROSIR SPREI DAN BEDCOVER MURAH HANYA ADA DI SINI


KOLEKSI BATIK INDONESIA ADA DI SINI


JILBAB DAN BUSANA MULIM TERBARU ADA DI SINI

Senin, 16 Januari 2012

Ingin Punya Anak Pintar??? Baca Ini


REPUBLIKA.CO.ID, Cikal bakal otak anak mulai terbentuk pada usia kehamilan dini. Anak sehat dan pintar di sana bermula. Dari situ pulalah, masalah dan gangguan perkembangan bisa muncul. Kalau mau memiliki anak yang pintar dimulai dari sini (masa awal kehamilan) karena lempengan otak sudah terbentuk saat usia kehamilan 18 hari. Maka itu, kehamilan tersebut benar-benar harus dipersiapkan, ujar dokter spesialis tumbuh kembang anak, dr Ahmad Suryawan SpA(K).
Dari bentuk lempengan, pertumbuhan otak dalam janin akan terus tumbuh. Puncaknya saat kehamilan antara empat bulan hingga enam bulan. Nutrisi yang baik dan didukung psikis ibu yang stabil akan membentuk sel-sel otak bayi. Semakin banyak sel otak yang tumbuh, semakin tercipta anak yang cerdas. Untuk itu, pada masa kehamilan, ibu dilarang stres karena akan memengaruhi perkembangan sel-sel pembentukan otak.

Setelah bayi lahir, sel-sel otak harus distimulasi agar semakin banyak pembentuk jaringan penghubung sel-sel otak. Masa stimulasi ini, lanjut dokter yang akrab disapa Wawan itu, sangat penting dilakukan sejak dini. Otak anak yang kurang stimulasi tak memiliki jaringan penghubung.
Wawan menitikberatkan masalah stimulasi dini agar para orang tua mengetahui perkembangan anaknya. Sebab, ada masa periode kritis. Saat itu, pertumbuhan otak anak tidak tumbuh dan tidak berkembang. Periode kritis ini adalah sebuah kurun waktu dalam pertumbuhan otak anak. Bila didapatkan gangguan, akan berakibat anak mengalami kelainan perkembangan yang permanen dan sulit disembuhkan, paparnya di Karawaci, Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu.

Jika gangguan tersebut diketahui sejak dini, masih bisa dilakukan langkah-langkah perbaikan. Namun, jika deteksi terlambat, dikhawatirkan menjadi cacat seterusnya. Karena, pertumbuhan otak itu hanya sampai usia anak enam tahun.

baca artikel motivasi DISINI
baca artikel Islami DISINI