Kamis, 28 Februari 2013

Mengapa Balita Senang Menguji Kesabaran Orangtuanya?

Mengapa Balita Senang Menguji Kesabaran Orangtuanya?

Mengapa Balita Senang Menguji Kesabaran Orangtuanya?

 Masa kanak-kanak adalah salah satu masa untuk belajar dan mengenal hal-hal yang terjadi di sekitar mereka. Namun terkadang, sulit sekali untuk mengajarkan anak-anak apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan. Mereka seringkali bersikap melawan dan sulit untuk diajak bekerjasama.
Jika dilarang untuk melakukan sesuatu, anak -anak biasanya akan tetap melakukannya atau bersikap tidak patuh. Apa yang menyebabkan mereka tidak patuh dan sering mentes kesabaran orangtuanya? Bagaimana agar sang buah hati mau mendengarkan Anda?

Berikut adalah cara-cara untuk mengatasi anak yang bengal menurut psikolog perkembangan anak, Sussane Ayers Denham seperti dikutip dari baby centre:
  1. Buah hati Anda tidak bermaksud membangkang ataupun melawan apa yang Anda sampaikan.
    Si kecil biasanya hanya mengetes orangtuanya, namun bukan dalam konotasi yang negatif. Anak hanya berusaha untuk menyesuaikan diri dengan tata cara dan peraturan yang terdapat dalam keluarganya, mereka masih dalam tahap transisi dan membutuhkan orangtua yang dapat mengajarkan dan memberi contoh kepada mereka. Hal ini mereka lakukan agar dapat terus menjalankan perintah tersebut ada ataupun tidaknya sosok orangtua di sekeliling mereka. Dalam proses tersebut, Anda harus mengajarkan kepadanya mengapa peraturan itu harus dilakukan dan apa manfaat peraturan tersebut untuknya. Hal ini tidak akan berjalan dengan mudah dan tentu saja harus diawasi dengan baik agar berjalan dengan sempurna.
  2. Anak tidak mau mengalah begitu saja terhadap orang tuanya.
    Poin kedua ini terjadi karena menurut mereka, mendengarkan dan mengikuti begitu saja keinginan orangtua berarti mereka kalah dalam persaingan tersebut. Jadi memang sebagai orangtua, Anda harus banyak bersabar ketika menghadapi perlakuan anak yang suka melawan atau tidak menurut.
  3. Balita cenderung ingin tahu seberapa jauh batasan larangan ataupun perintah Anda.
    Mereka ingin mengetahui seberapa jauh larangan yang Anda berikan kepadanya. Apakah jika mereka makan sambil menonton televisi akan langsung mendapatkan hukuman dari orangtuanya, atau hanya jika mereka tidak menghabiskan makanan apabila mereka makin sambil menonton televisi. Mereka hanya ingin tahu dan menginginkan jawaban dan batasan yang jelas dari perintah Anda.
  4. Anak menginginkan bimbingan dari orang tuanya sepanjang waktu.
    Balita ingin agar orangtua mereka selalu membimbing dan menemani mereka setiap waktu. Menghabiskan waktu dan mengerjakan hal-hal bersama orangtuanya serta mendapatkan pelajaran yang berharga setiap saat dalam hidupnya, sebenarnya disukainya.
Jadi, sebenarnya yang mereka lakukan bukanlah untuk membangkang dan melawan perintah Anda. Menurut anak-anak lebih baik mengetes dan mengetahui apa yang diinginkan orangtuanya ketimbang berbohong dan melakukan larangan tersebut di belakang Anda. Daripada kecewa akan ketidaktaatannya, lebih baih jika Anda mengatasinya dengan pola pikir yang berbeda.
Buatlah batasan yang jelas dalam larangan Anda dan atasi situasi tersebut dengan mencegah tindakan-tindakan pembangkangan mereka. Contohnya, jika Anda tidak menginginkan ia memainkan koleksi kristal kesayangan Anda, maka letakkanlah koleksi kristal tersebut pada lemari yang jauh dari jangkauannya dan jangan lupa untuk mengunci lemari tersebut. Begitu juga dengan buku-buku koleksi kesayangan Anda, daripada terus menerus mengatakan hal yang sama agar mereka tidak memainkan buku tersebut, pindahkan saja buku-buku tersebut ke bagian lemari yang lebih tinggi yang berada jauh dari jangkauan mereka.
Belajarlah untuk mengurangi pertengkaran yang tidak perlu dengan sang buah hati, dan tingkatkan selera humor Anda. Karena dalam melakukan aksi melawan orangtuanya, anak-anak sering bertingkah konyol namun terampil untuk mengelabui Anda.

Redaktur: Tata Rifa
Sumber: wolipop

Selasa, 26 Februari 2013

Kenali gejala tersembunyi kanker ovarium

Kenali gejala tersembunyi kanker ovarium

Kanker ovarium adalah penyakit berbahaya yang seringkali mengejutkan wanita. Hampir sama dengan kanker payudara, kanker ovarium juga bisa disebut sebagai 'silent killer', yaitu penyakit yang membunuh secara diam-diam. Untuk memastikan agar diri Anda selamat dari kanker ovarium, pastikan untuk mengenali gejala tersembunyinya.

Dr Shruti Bathia dari Action Cancer Hospital, New Delhi, menjabarkan beberapa gejala tersembunyi kanker ovarium, seperti dilansir oleh Health Me Up (22/02).

1. Tekanan atau rasa sakit yang terus-menerus pada bagian perut, pelvis, punggung, atau kaki.

2. Perut yang membengkak atau terasa kembung terus-menerus.

3. Kesulitan makan atau susah merasa kenyang.

4. Mual, muntah, kelainan pencernaan, rasa kembung, serta mengalami konstipasi.

5. Merasa sering kecapekan setiap waktu.

6. Kebiasaan pencernaan yang berubah, bisa jadi pola makan, buang air besar, dan sebagainya.

7. Berat badan yang turun atau naik secara drastis, tanpa alasan.

8. Napas yang semakin pendek.

9. Lebih sering buang air kecil.

10. Pendarahan pada vagina yang tak biasa, misalkan ketika menstruasi, atau menopause.

Jangan takut jika Anda merasa perut tiba-tiba bermasalah. Bisa jadi itu masalah lambung. Namun jika semakin banyak gejala di atas yang Anda alami, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.
(merdeka/25/2/13)

Senin, 25 Februari 2013

Mitos jus jambu Obat demam Berdarah, Benarkah?

Ghiboo.com - Salah satu pengobatan untuk penderita demam berdarah (DBD) adalah mencegah terjadinya dehidrasi.
Kekurangan cairan justru memperparah kondisi penderita dan menimbulkan gangguan kesehatan lainnya, seperti diare.
Menurut dr. Muzal Kadim, Sp.A(K) dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Sub Spesialis Gastroenterology Anak, pengonsumsian jus jambu klutuk yang diyakini sebagai 'obat' DBD justru memperparah tingkat dehidrasi.
"Jus jambu atau jus apel memiliki osmolaritas (tingkat kepekatan untuk menarik air) tinggi. Hal ini akan memperparah tingkat dehidrasi tubuh dan akhirnya muncullah diare," jelas dr. Muzal ditemui dalam acara Pocari Sweat beberapa waktu lalu.
Dr. Muzal menambahkan, pengonsumsian jus jambu sebagai obat DBD agak salah kaprah. Banyak masyarakat percaya bahwa jambu klutuk ampuh menaikkan jumlah trombosit darah. Namun bukan berarti jus jambu tidak bermanfaat bagi kita.
"Jambu itu tidak menaikkan trombosit darah. Namun, jambu memiliki vitamin C tinggi, yang berguna memperbaiki daya tahan tubuh melawan virus dengue (penyebab DBD). Trombosit penderita DBD akan naik secara perlahan dengan sendirinya," tambahnya.BACA JUGA:

Rabu, 20 Februari 2013

6 Sayuran Yang Baik Untuk Bayi Anda

Sayuran Yang Baik Untuk Bayi
Agar bayi lebih bersahabat dengan sayur, selepas masa ASI ekslusif 6 bulan, kenalkan sayuran dulu sebelum buah-buahan. Sumber vitamin dan mineral yang rasanya hambar ini akan terekam dalam memori bayi. Bila dia diberi buah yang rasanya manis terlebih dahulu, umumnya akan menolak sayur yang diberikan belakangan. Inilah sayuran yang umum diberikan untuk bayi usia 6-12 bulan.

1. Seledri. Sayuran ini umumnya digunakan sebagai penambah cita rasa makanan, misalnya saat membuat sup. Namun, tak salahnya jika Anda menjadikannya sebagai campuran bubur atau nasi tim bayi. walau digunakan sebagai penambah cita rasa, seledri mengandung kalsium dan fosfor yang lumayan. Dalam 100 gram seledri terdapat 50 miligram kalsium, dan fosfor 40 miligram.

2. Bayam. Sayuran berwarna hijau ini mengandung vitamin A (dalam bentuk betakaroten) yang tinggi, yakni 1872 mikrogram/100 gram. Selain itu, bayam juga kaya vitamin B, vitamin C, asam folat, serta mineral kalsium, fosfor, mangan dan zat besi. Bayam juga sangat penting untuk pembentukan otak bayi. bayam merah juga sumber vitamin dan mineral terutama kalsium. Dalam 100 gram bayam merah, terdapat 368 miligram kalsium. Selain itu, bayam merah juga kaya akan fosfor dan zat besi, serta vitamin A,B1 (tiamin) dan C.

3. Labu siam. Kaya akan fosfor dan kalsium. Dalam 100 gram labu siam mengandung 25 miligram fosfor dan 14 miligram kalsium.

4. Wortel. Manjur buat kesehatan mata karena vitamin A-nya yang lumayan tinggi, yaitu sekitar 3600 mikrogram dalam 100 gram wortel.

5. Brokoli. Kaya kalsium dan asam folat. Dalam 100 gram brokoli yang dimasak, terkandung 56 mikrogram asam folat dan 88 miligram kalsium. Hanya saja karena bentuknya yang agak keras, maka brokoli harus benar-benar lunak dan dilumatkan saat disajikan untuk bayi.

6. Tomat. Mengandung vitamin C yang cukup banyak, yakni 40 miligram dalam 100 gram tomat. Selain itu, tomat juga mengandung suatu sat yang disebut likopen. Zat yang memberi warna merah pada buah tomat ini bersifat antioksidan.

Senin, 18 Februari 2013

INFO PENTING BUAT PARA WANITA..... BAGI YG BUKAN, SAMPAIKAN KE SIAPA SAJA, YANG PENTING WANITA.

waspada cermin di toilet umum

Ketika anda masuk ke toilet umum, kamar hotel, fitting room, resto, salon, spa dll, kebanyakan dari anda yakin bhw cermin yg menggantung di dinding kelihatannya spt cermin biasa... Tp sesungguhnya itu memang benar-benar cermin BIASA, atau itu cermin 2 ARAH (orang di belakang cermin itu bisa melihat anda, dan anda tdk dpt melihat mrk), spt cermin pd ruang interogasi kantor polisi yg sering kita saksikan di film.

Bnyk kasus di mana org iseng memasang cermin 2 ARAH di dlm ruang ganti pakaian wanita atau di toilet wanita, terkadang ini ulah nakal OKNUM di situ tnpa sepengetahuan pemilik toko / resto / hotel / salon / spa.

Sangat sulit mengidentifikasi permukaannya hanya dgn melihatnya saja. Bagaimana menentukan dgn pasti apakah cermin itu adlh cermin BIASA atau cermin 2 ARAH..??

LAKUKAN TEST SEDERHANA or TEST KUKU JARI... Caranya, letakkan ujung kuku anda di atas permukaan cermin :

Jika ADA jarak (gap) antara kuku dan bayangan kuku anda di cermin... bsa dikatakan itu adalah cermin BIASA... Aman!

Jika TIDAK ADA jarak (gap), artinya kuku anda lngsung menyentuh bayangan kuku anda di cermin itu adlh cermin 2 ARAH... Sebaiknya Segera Tinggalkan ruangan itu!

Ini cara sederhana tp efektif, anda bsa menyelamatkan diri anda , anak gadis anda, teman wanita anda dari 'perkosaan visual'.
Bnyk wanita tdk menyadari tlh menjadi korban, ingat kasus bbrp thn lalu sekelompok artis direkam aktivitasnya di sebuah toilet studio photo.

Meski anda bukan artis, hal ini tetap dpt menjadi alat PEMERASAN dll, teknologi skrg memudahkan mrk beraksi merekam aktivitas pribadi anda di toilet... dgn HP seharga 500 ribu...!! Bayangkan kalau itu di-upload di internet via Facebook, Twitter dll. Ingatlah selalu.. setiap kali anda melihat cermin di tempat umum tadi... lakukan TEST KUKU JARI...!!

Jumat, 15 Februari 2013

Sebagian Alasan Kenapa Dokter Dokter Di Negara negara Maju "pelit" Kasih Obat ke Anak yang Sakit ?

** Dimana letak Salahnya?**

Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku ...tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.

Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.

"Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection." kata dokter tua itu.




"Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?" batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.

"Obat penurun panas Dok?" tanyaku lagi.
"Actually that is not necessary if the fever below 40 C."

Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.
Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

"Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok," kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. "Apakah dia sudah minum suatu obat?"

Aku mengangguk. "Ibuprofen syrup Dok," jawabku.

Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,"Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja."

Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.
Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku."Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!" Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.

"Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!"

Suamiku menimpali, "Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?"
Aku menarik napas panjang. "Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?"

Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!

Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.

"Just drink a lot," katanya ringan.

Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.

"Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?" tanyaku tak puas.

"This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik," jawabnya lagi.

Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat.
Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.

"Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan," kataku ngeyel.

Dengan santai si dokter pun menjawab,"Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq."
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.

"Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini." Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia.

Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anak anakku sendiri.
Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak.
Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.

Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.

"Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.?

Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,
"Nothing to worry. Just a viral infection."

Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagi lagi aku sebal.

"Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok," aku ngeyel seperti biasa.

Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum.
"Do you know how many times normally children get sick every year?"

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. "enam kali," jawabku asal.

"Twelve time in a year, researcher said," katanya sambil tersenyum lebar.
"Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat," sambungnya.

Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.

Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI.

Bunyinya begini: "Batuk - pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 - 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar.
Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun."
Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.

"Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya," Lanjut artikel itu. "Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus.
Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi.

Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun."

Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku.

Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda 'dipaksa' tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.

Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata 'pengobatan rasional'. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional.
Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm... kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.

Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anak anak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. "Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe," kataku pada suamiku.

Jadi, bagaimana dengan para orang tua di Indonesia?

Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif 'terlindungi' dari paparan obat-obatan yang tak perlu.
Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, 'memaksa' agar si dokter memberikan obat.
Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter 'menjual' obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?

Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!

Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya 'hanya' untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.

Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.

Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien 'bergerak', masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.

Dikutip dari buku "Smart Patient" karya dr. Agnes Tri Harjaningrum |

Anak Anda ‘Keras Kepala’ ? Inilah 10 Cara Mendidiknya.


Sifat keras kepala anak sering membuat orangtua kebingungan sebab akan lebih sulit diatur dan dilarang untuk melakukan hal-hal tertentu. Sebelum Anda diperdaya dengan jeritan dan tangisan anak berkepanjangan, berikut adalah beberapa tips untuk menghadapinya.

1. Luangkanlah waktu untuk mendengarkan apa sebenarnya yang ia inginkan.

2. Berikan pengertian dengan cara yang lembut pada anak bahwa yang ia pilih bisa jadi merupakan hal yang tidak baik.

3. Ajari anak dengan cara yang seimbang. Dalam hal ini sebaiknya Anda tidak terlalu memanjakan, namun juga tidak terlalu bersikap keras dalam mendidik.

4. Berikan penjelasan dengan bahasa dan makna yang mudah dimengerti anak. Misalnya jika Anda meminta anak untuk tidak melakukan sesuatu, mintalah dengan bahasa yang santun dan mudah dimengerti mereka.

5. Jangan bersikap tidak konsisten di depan anak. Misalnya ketika Anda melarang anak melakukan sesuatu, jangan kemudian Anda memberikannya izin setelah ia menangis keras. Berikan pengertian yang tepat sehingga anak paham akan larangan yang Anda berikan dan apa konsekuensinya.

6. Berilah pengertian bahwa tangisan di depan umum merupakan hal yang buruk dan tidak patut dilakukan. Ajari anak untuk mengungkapkan apa yang ia inginkan dengan cara yang terpuji, dan tidak menangis jika keinginannya tidak dipenuhi.

7. Jika anak tidak mau mengikuti perintah Anda, jangan terlalu memaksanya, terlebih jika tengah berada di tempat umum. Pilihlah waktu yang tepat untuk memberitahunya bahwa yang ia lakukan adalah hal yang keliru.

8. Hindari untuk bersuara keras ketika menyuruh atau melarang anak dalam melakukan sesuatu.

9. Sebisa mungkin, hindari untuk bertengkar dengan pasangan di dekat anak. Bukan tidak mungkin tontonan tersebut bisa diikuti oleh anak Anda.

10. Berikan bentuk penghargaan seperti ucapan terima kasih atau pujian jika Anak melakukan kebaikan, dan beri hukuman yang sesuai dan mendidik jika anak melakukan bentuk kesalahan.



Semoga bermanfaat ya...